Kisah Pertempuran Surabaya yang Tak Dikenang (2)

Kisah Pertempuran Surabaya yang Tak Dikenang (2)

Merdeka.com – Di Indonesia, sejarah kerap ditulis secara ujug-ujug. Tanpa awal tanpa pangkal. Seolah berdiri sendiri. Demikian juga yang terjadi dengan peristiwa 10 November 1945 yang jalan ceritanya dimulai dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di akhir Oktober 1945.

Oleh: Hendi Jo*

Akhir Oktober 1945, sejatinya telah terbangun kesepakatan yang mengarah kepada perdamaian di antara pihak Inggris dengan pihak Indonesia (yang diwakili Pemerintah Jawa Timur) di Surabaya. Sayangnya, soal itu tidak dikoordinasikan dengan baik oleh Brigadir Mallaby kepada para atasannya di Jakarta.

Menurut sejarawan Frank Palmos, ketika Pemerintah Jawa Timur membangun kesepakatan dengan Mallaby, atasan sang brigadir di Jakarta yakni Mayor Jenderal Douglas Hawthorn (Komandan Tentara Inggris untuk Jawa, Madura, Bali dan Lombok) malah mememerintahkan pasukan Inggris di Surabaya untuk memberangus kaum republik. Tentu saja itu membuat Mallaby yang sudah terlanjur menempuh jalur diplomasi menjadi gamang dan kecewa.

Di tengah situasi panas itu, tiba-tiba pada 27 Oktober 1945, sebuah pesawat melayang-layang di atas Surabaya. Pesawat milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) itu menyebarkan ribuan pamflet ancaman: “…seluruh rakyat Surabaya harus mengembalikan seluruh senjata hasil rampasan dari tentara Jepang. Mereka yang menyimpan senajata akan langsung ditembak di tempat.”

Penyebaran pamflet itu (lagi-lagi) sungguh mengejutkan kedua pihak. Satu jam setelah kejadian tersebut, Jenderal Mayor drg. Moestopo dan Residen Soedirman langsung menemui Mallaby. Mallaby tentu saja berkilah bahwa dirinya tidak tahu menahu mengenai pamflet yang ditandatangani oleh atasannya itu.

“Namun sebagai perwira British, meski saya sudah menandatangani persetujuan dengan para pemimpin Republik di Surabaya, saya harus mematuhi instruksi panglima saya.” demikian menurut Mallaby seperti dicatat oleh Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945.

Surabaya Bergerak

Jawaban Mallaby membuat Moestopo dan Soedirman sangat kecewa. Sebagaimana orang-orang Surabaya lainnya, mereka berdua mulai kehilangan rasa percaya kepada pihak Inggris. Terutama ketika Mallaby memerintahkan pasukannya untuk menyita kendaraan-kendaraan milik orang-orang Indonesia, merampas senjata mereka, menduduki gedung-gedung baru dan menginstruksikan pamer kekuatan di tengah kota.

Gubernur Soerjo terus berupaya untuk mencoba jalan tengah. Lewat para pembantunya, ia tetap mengusahakan agar Mallaby dan pihak Inggris kembali ke jalur kesepakatan. Namun itu seperti melukis di atas air. Dan selaku bawahan Pemerintah Pusat, secara teratur sang gubernur terus melaporkan perkembangan jam demi jam ke Jakarta.

Soerjo pun memberikan kabar situasi panas Surabaya pasca penyebaran pamflet oleh Inggris. Alih-alih memberikan solusi, Jakarta hanya bisa memberi saran agar masyarakat Surabaya tidak terpengaruh, sambil meminta mereka untuk menolak ultimatum itu secara tegas.

Dari jam ke jam, situasi Surabaya sendiri semakin memanas. Sejumlah insiden mulai muncul sebagai percikan awal dari suatu konflik terbesar pasca Perang Dunia ke-2. Di Kedoengdoro, sekelompok tentara Inggris berkebangsaan India menembakan senjata mereka secara provokatif. Tentu saja, aksi itu disambut sebagai tantangan oleh kaum Republik. Aksi tembak-menembak pun dimulai. Insiden serupa juga terjadi di sekitar Kepoetren.

Minggu pagi, 28 Oktober 1945. Berbeda dengan hari-hari biasanya, suasana kota Surabaya nampak sepi. Di sudut-sudut jalan, para pemuda, anggota-anggota badan perjuangan, Polisi dan TKR tengah menunggu komando menyerbu dari Komandan Divisi TKR Jenderal Mayor Jonosewojo. Serbuan terhadap pos-pos tentara Inggris, segera dilaksanakan setelah adanya komando. Kekuatan rakyat dan kaum bersenjata bahu membahu melakukan gempuran terhadap kedudukan pasukan Inggris.

Pertempuran seru terjadi di seluruh Surabaya. Tak ada satu pun pos-pos tentara Inggris yang dilewatkan. Gubernur Soerjo sendiri telah menyerahkan komando peperangan kepada para pemimpin pejuang muda (rata-rata berumur 24-28) dan bawahan mereka. Semua unit bergerak di bawah koordinasi pimpinan masing-masing, sehingga total pasukan jalanan yang dikerahkan mencapai angka 100 ribu.

Jumlah itu dari jam ke jam semakin melonjak. Dari sekira 20 ribu tentara terlatih yang memandu serangan serentak di pagi hari pada 28 Oktober, bertambah menjadi sekira 120 ribu orang. Pertambahan jumlah yang luar biasa itu disebabkan bergabungnya ribuan relawan dari kampung-kampung dan kota-kota lain seperti Mojokerto, Malang, Sidoarjo, Jombang, Bangil dan Pasuruan.

“Propaganda dari Radio Pemberontak merupakan salah satu faktor penting dari semakin bertambahnya tenaga tempur di medan perang,” tulis Palmos.

Taktik menempatkan satuan-satuan kecil di seluruh kota yang dilakukan oleh Mallaby terbukti menjadi bencana besar untuk pasukan Inggris. Alih-alih menjadi unggul, pasukan Inggris yang hanya berjumlah sekira 4000 orang, menjadi mangsa yang empuk untuk dibantai. Meskipun mereka memiliki persenjataan yang modern dan kemampuan terlatih, tak ada jaminan mereka bisa menang melawan musuh yang seolah tak habis-habis.

“Jika ada seorang yang gugur, tempatnya segera digantikan oleh yang lain…” tulis Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya.

Pasukan Inggris yang berposisi di tengah kota berjumlah hanya sedikit dan dalam keadaan kritis. Yang mereka bisa lakukan hanya meminta bantuan dari markas induk pasukan mereka di Tanjung Perak. Setiap satuan Inggris yang terkepung harus berjuang demi diri sendiri. Tapi satu persatu mereka disergap dan dibantai.

Pengepungan brutal itu berlangsung sampai pasukan Inggris di Surabaya kehabisan logistik dan peluru, sehingga mereka terpaksa meminta bantuan langsung ke Jakarta.

“Pesawat-pesawat terbang menjatuhkan bantuan ke posisi-posisi mereka, namun lebih banyak makanan yang jatuh di luar pertahanan…” ujar Surachman, salah satu pelaku perang di Surabaya kepada Irna H.N. Hadi Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I).

Hingga hari kedua pertempuran, arek-arek Suroboyo telah membantai sekira 400 serdadu Inggris (termasuk 16 perwira). Sejarawan Richard McMillan malah memiliki versi berbeda dan cara yang unik dalam menyebutkan jumlah korban: “Karena suatu ‘pamer kekuatan’ menyebabkan 427 nyawa dari suatu pasukan yang memiliki kurang lebih 4.000 prajurit melayang begitu saja…” ungkapnya dalam The British Occupation of Indonesia, 1945-1946.

Inggris Memanggil Sukarno

Untuk keluar dari situasi yang sangat gawat itu, pihak Inggris terpaksa harus menjilat ludah sendiri. Dengan menafikan protes dari Belanda, mereka harus mengakui secara de facto keberadaan RI dan meminta bantuan para pemimpin gerakan kemerdekaan yang semula mereka sepelekan. Hal itu dilakukan Komandan Pasukan Sekutu di Asia Tenggara Jenderal Sir Philip Christison dengan meminta bantuan Sukarno-Hatta meredakan kemarahan arek-arek Suroboyo yang tengah menggila.

Permintaan Christison disanggupi oleh Sukarno-Hatta. Pada 29 Oktober 1945, dengan menggunakan pesawat milik RAF mereka bertolak ke Surabaya bersama Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin. Tiba di lapangan terbang Morokrembangan, rombongan para pimpinan RI disambut secara membahana oleh para pejuang yang tengah mengepung kawasan tersebut. Disertai para perwira Inggris, mereka langsung bertolak ke Kegubernuran untuk membicarakan gencatan senjata dengan Gubernur Soerjo dan jajarannya.

Di hadapan sang presiden dan wakilnya, para pemimpin Jawa Timur menjelaskan situasi terkini di Surabaya. Mereka pun menegaskan tekadnya untuk terus melanjutkan pertempuran, seraya mengatakan bahwa mereka tak pernah melanggar Perjanjian 26 Oktober. Kalau pun ada yang ingkar janji, mereka menyebut Inggris sebagai pelakunya.

Secara khusus, dalam kesempatan itu, Gubernur Soerjo dan Doel Arnowo meminta Presiden Sukarno untuk bersikap tegas terhadap Inggris. Begitu juga Bung Tomo, meminta Sukarno untuk memahami perasaan rakyat Surabaya. Sukarno bergeming. Dia tetap meminta agar gencatan senjata dijalankan dan kerjasama dengan tentara Inggris terus dilakukan.

Pada 30 Oktober 1945, sekitar jam 11.30, perundingan antara pihak Inggris yang diwakili Hawthorn dan Mallaby dengan perwakilan RI yang diwakili oleh Sukarno-Hatta dimulai. Di mata para pejuang Surabaya sendiri, isi perjanjian yang mereka capai sama sekali tidak ada harganya.

Sukarno telah menyetujui bahwa pasukan Inggris dijamin keselamatannya untuk melewati kota dari ujung selatan ke ujung utara supaya sisa tentara dan warga sipil yang terperangkap bisa mencapai pelabuhan Tanjung Perak.

Menurut Ruslan Abdulgani dalam sebuah artikelnya di Surabaya Post pada 30 Oktober 1973, ada lima hal penting yang dihasilkan dari pertemuan itu:

1. Isi selebaran yang ditandatangani oleh Mayor Jenderal D.C. Hawthorn dan disebarkan pada 27 Oktober 1945, dinyatakan tidak berlaku lagi.
2. TKR dan Kepolisian RI diakui eksistensinya oleh pihak Inggris.
3. Pihak Inggris akan membatasi kehadiran mereka pada wilayah kamp-kamp interniran di sekitar bangunan bekas HBS (sekolah menengah atas era Hindia Belanda) dan daerah Darmo.
4. Komunikasi antara pihak tentara Inggris dengan TKR dan Kepolisian RI akan dilaksanakan melalui Biro Kontak. Ruslan Abdul Gani dan Kapten Shaw akan melanjutkan kerjasama mereka.
5. Pelabuhan Tanjung Perak untuk sementara diduduki oleh tentara Inggris karena masih diperlukan untuk menerima kiriman obat-obatan dan makanan. Namun pelabuhan tetap dikuasai oleh RI.

Perundingan Sukarno-Hawthorn berakhir pada jam 13.00. Usai menandatangani kesepakatan, rombongan Presiden Sukarno kemudian meninggalkan Surabaya. Mereka bergerak dari lapangan udara Morokrembangan dalam iringan suara tembakan yang masih terdengar dari sana-sini. Selesai mengantarkan rombongan presiden, pada jam 15.00, Biro Kontak pun mulai bersidang di Kegubernuran.

Dengan berakhirnya Pertempuran Surabaya I, maka batal-lah tentara pemenang Perang Dunia II itu tersapu bersih (meminjam istilah seorang perwira Inggris) dari kota asing bernama Surabaya. Kendati baku tembak masih tetap berlangsung, namun seruan Sukarno untuk menghentikan pertempuran secara umum ditaati.

Bagi Inggris, berlakunya kesepakatan gencatan senjata tersebut seolah memberi napas tambahan. Sejatinya mereka tidak benar-benar memiliki itikad baik. Semua yang dilakukan tak lepas dari strategi permainan catur yang harus dilakukan oleh mereka. Diam-diam militer Inggris mulai mendatangkan pasukan tambahan.

Surabaya kembali berada di ambang peperangan yang lebih dasyat…

*) Jurnalis sejarah, tinggal di Depok

[noe]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.