Kemendes PDTT adopsi sistem UNDP dalam pembangunan desa

Kemendes PDTT adopsi sistem UNDP dalam pembangunan desa

faktualist.com – Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengadopsi sistem informasi Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) agar tidak ada warga yang terlewat (no oneleft behind)dalam pembangunan desa.

No one left behind prinsipnya di sini. Tidak boleh ada satu pun warga desa yang terlewatkan partisipasinya dalam pembangunan desa,” ujar Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar saat menerima Perwakilan UNDP Indonesia di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan pembangunan desa yang dilaksanakan dengan prinsip no one left behind akan dimaksimalkan dengan mengadopsi sistem Co-Creation. Sistem ini merupakan metodologi SocialInnovationPlatformsyang dikembangkan UNDP.

Menurutnya, dengan Co-Creation,kebutuhan dan masalah yang dihadapi masyarakat secara keseluruhan akan lebih banyak dieksplorasi yang nantinya dapat menjadi acuan untuk melakukan pembangunan di desa.

“Kami mengakui pentingnya pembangunan pedesaan Indonesia,” kata Gus Halim, demikian ia biasa disapa dalam keterangan tertulis.

Dalam dua tahun terakhir, katanya, Kemendes PDTT telah mengadopsi metodologi SIP di Gorontalo dan Sukabumi. Sistem ini dinilai berhasil dan sangat berpengaruh pada pembangunan desa.

Oleh karena itu, lanjut dia, SIP akan dilanjutkan dengan skala yang lebih besar dan disandingkan dengan program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD).

“Saya berharap dengan bekerja sama kita dapat membuat kumpulan praktik terbaik yang memungkinkan kita memberdayakan komunitas ini secara demokratis dan memajukan pembangunan nasional dan tujuan pembangunan berkelanjutan,” tuturnya.

Disampaikan, metodologi SIP dikembangkan UNDP bersama Agirre Lehendakaria Center (ALC) dengan beberapa langkah, di antaranya system mapping, listening process, collective sensemaking, prototyping, dan scalling.

Sementara itu, Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura optimistis pembangunan di desa semakin merata dan tepat sasaran seiring dengan banyaknya kawasan yang dibangun dengan metodologi tersebut.

“Upaya kami bergantung pada keterlibatan setiap anggota masyarakat, dan saya harap kami dapat melakukan hal yang sama di negara lain di kawasan ini dan sekitarnya,” katanya.